Pilih busana kasual atau formal untuk bekerja

Memasuki akhir tahun, aku ingin sedikit membahas tentang budaya berbusana di perusahaan. Dulu gaya berpakaian di perusahaan menggambarkan kredibilitas perusahaan tersebut. Hal ini sebenarnya masih berlaku untuk perusahaan negara (BUMN) dan Aparatur Sipil Negara (ASN). Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, perusahaan swasta dan perusahaan startup mulai mengadopsi budaya berbusana casual dan mulai meninggalkan busana formal.

BUSANA CASUAL

Photo by Mimi Thian on Unsplash

Istilah casual sendiri mulai dikenal pada tahun 80-an. Di populerkan oleh Margaret Thatcher pada saat masa kepemimpinannya sebagai perdana menteri Inggris. Casual sendiri menunjukan kekayaan dan kesuksesan pribadi.
Gaya berbusana casual sendiri adalah gaya berbusana yang tercipta dengan penyempurnaan gaya sportif yang dibuat lebih rapi dan trendy dengan tujuan membuat pemakainya tampak santai dan friendly.

Kelebihan Busana Casual

Meningkatkan Kepuasan Kerja
Perusahaan yang memberikan kebebasan kepada karyawannya dalam berbusana, menunjukan bahwa perusahaan tersebut mengutamakan kenyamanan karyawan. Fleksibilitas ini akan memberikan ruang kerja yang lebih kondusif kepada karyawan untuk mengekspresikan dirinya. Hal ini tentu saja akan meningkatkan kepuasan kerja dan memperkecil turnover. Tingkat loyalitas yang tinggi tersebut akan membuat karyawan lebih fokus untuk memberikan kontribusi lebih pada perusahaan.

Mentriger Kreativitas
Dengan memperbolehkan karyawannya berbusana secara casual, secara langsung perusahaan mendorong karyawannya untuk bebas berekspresi secara positif. Dengan meninggalkan pola pikir tradisional korporat, umumnya perusahaan yang mengadopsi gaya ini adalah perusahaan baru (Startup) yang mayoritas diisi oleh anak-anak muda dengan pemikiran yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Menghilangkan Tembok Jabatan
Busana formal pada umumnya akan memberikan kesan tegas dan bekerja berdasarkan rantai komando (atasan ke bawahan). Hal ini banyak ditemui pada ASN dan BUMN. Berbeda dengan busana formal, busana casual lebih mengutamakan kebersamaan dan rasa kekeluargaan sehingga kesan intimidasi antara atasan dan bawahan tidak lagi menjadi masalah. Komunikasi antara atasan dan bawahan pun akan lebih santai dan dapat meningkatkan produktifitas kerja.

Kekurangan Busana CasualMemberikan Kesan Awal yang Salah
Mengenakan busana casual pun harus disertai dengan kesadaran akan situasi tertentu. Apalagi ketika kamu akan dihadapkan pada beberapa kasus dimana kamu akan bertemu dengan klien baru. Sebagai representative perusahaan, kamu harus bisa menyesuaikan busana kamu agar memberikan kesan awal yang profesional. Tidak ada salahnya ketika bertemu dengan klien kamu berbusana semi casual. Tampak santai tetapi tetap profesional.

Menghapus Tembok yang Memisahkan Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan
Pernakah kamu merasakan tidak mempunyai semangat untuk melakukan apapun ketika berada dirumah ketimbang di kantor? Coba perhatikan busana yang kamu pakai. Kalau dari senin sampai jumat kamu mengenakan kaos dan jeans untuk bekerja. Kemudian pada Sabtu dan Minggu pun kamu mengenakan jenis pakaian yang sama, kesan monoton akan muncul di hidupmu. Apakah sedang bekerja? atau sedang berada di rumah? Cobalah untuk selalu mengganti gaya berpakaianmu sesekali. Kamu akan merasakan perbedaannya.

BUSANA FORMAL

Photo by Ruthson Zimmerman on Unsplash

Sebaliknya, busana formal adalah busana yang digunakan untuk kegiatan resmi. Busana formal dipakai saat bekerja, bertemu klien atau meeting dengan kolega. Busana formal sendiri sudah muncul saat jaman kerajaan.

Kelebihan Busana Formal

Terlihat lebih Berwibawa
Kenapa polisi dan tentara dipandang lebih berwibawa daripada orang biasa? Salah satu faktor adalah dari seragam yang mereka kenakan. Begitu pula dengan perusahaan korporasi yang mewajibkan berbusana secara formal. Dengan mengenakan busana formal, itu tandanya kita memberikan kesan bahwa klien yang untuk pertama kalinya kita temui adalah orang penting. Ketika kita memberikan cukup respek kepada dia, maka dia pun akan melakukan hal yang sama kepada kita. Hal ini akan mempermudah kita untuk melanjutkan kerja sama.

Menampilkan Kredibilitas Perusahaan
Banyak perusahaan korporasi beranggapan busana yang dipakai karyawannya adalah representatif budaya dari perusahaan tersebut. Hal tersebut tidaklah salah, mengingat dalam berbisnis, kita semua ingin dihargai. Dengan mengetahui hal tersebut, sudah merupakan aturan umum untuk menyesuaikan busana yang kita kenakan berdasarkan hubungan dengan orang yang kita temui, dimana kamu akan bertemu dan dengan tujuan apa pertemuan ini berlangsung. Hal ini secara tidak langsung akan menunjukan kredibilitas perusahaan tempatmu bekerja.

Terlihat lebih Cerdas
Saat kamu berkendara di perkotaan dan kebingungan menuju tujuan yang kamu tuju. Terdapat dua orang, salah seorang merupakan satpam dan seorang lagi pengguna jalan. Diantara kedua orang ini mana yang menurutmu akan memberikan jawaban sesuai harapanmu? Mungkin sebagian besar akan memilih bertanya kepada satpam. Ketika kamu memilih untuk bertanya kepada satpam, kamu beranggapan bahwa si satpam akan lebih tahu, karena dia bekerja di sekitar daerah sini. Hal ini berlaku juga untuk karyawan-karyawan pada perusahaan yang mewajibkan berbusana formal.

Dapat Meningkatkan Produktifitas
Berdasarkan studi, pakaian kerja (busana formal) umumnya akan memiliki dampak mental terhadap produktifitas individu tersebut. Hal ini terjadi karena pakaian kerja yang formal kemudian menjadi suatu simbolis dan (switch on) kepada individu tersebut untuk beraktifitas sesuai dengan pakaian yang dikenakan. Katakanlah kamu akan merasa lebih bugar ketika mengenakan pakaian olahraga saat berolahraga. Hal ini juga berlaku untuk pakaian kerja, dengan mengenakan pakaian kerja maka secara mental kamu akan lebih fokus untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Kekurangan Busana FormalSemuanya Tampak Kaku
Perusahaan yang mewajibkan karyawannya berbusana formal kerap disangkut pautkan dengan aturan yang ketat. Perusahaan tidak memberikan ruang kepada karyawannya untuk berekspresi. Hal ini membuat lingkungan kerja lebih kaku dan bisa saja berpotensi meningkatkan turn over karyawan.

Memberikan Tembok Jabatan antara Atasan dan Bawahan
Busana formal, khususnya pada ASN biasanya akan memberikan batasan antara atasan dan bawahan. Hal ini tidak terlepas dari masih kentalnya budaya rantai komando yang diadopsi dari militer. Memang bukanlah hal yang buruk, karena untuk menjalankan perusahaan dengan skala yang besar, harus diimbangi dengan rantai komando yang kuat.

Mematikan Kreativitas
Tanpa adanya ruang untuk berekspresi, perusahaan biasanya mengajarkan karyawannya untuk mengikuti sistem yang sudah ada. Hal ini pada akhirnya akan mematikan kreativitas karyawan tersebut karena akan terjebak dalam pemikiran inside the box.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *