Hari pertama di Ibukota

Cerita hari pertamaku di Ibukota tidaklah se-wow yang dikira orang. Aku saat itu adalah seorang lulusan baru dari salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Setelah menempuh pendidikan selama 4 tahun, akhirnya tiba saatnya aku meninggalkan dunia perkuliahan dan memasuki dunia baru, dunia kerja. Aku ingat betul hari ketika aku berangkat meninggalkan kota 1000 kenangan itu. Kota yang sudah menjadi rumah keduaku itu telah memberikan banyak cerita yang menjadi kenangan terindah semasa hidupku.

Juni 2017. Pada pagi-pagi buta, tepatnya pukul 06.00 WIB aku memulai lembar baru dalam hidupku. Dengan memikul sebuah ransel berisikan laptop dan beberapa set pakaian pada sebuah kardus mie, aku berangkat menuju Stasiun Tugu. Aku sudah beberapa kali pergi ke Ibukota, akan tetapi kali ini adalah perjalanan pertamaku dengan tujuan bekerja dan menetap selama beberapa waktu disana. Kesenangan dan kesedihan bercampur dalam benakku ketika akhirnya aku mendapat pekerjaan pertamaku di Ibukota karena harus meninggalkan kota yang sudah membentukku menjadi sekarang ini selama hampir 5 tahun.

Setelah tiba di Stasiun Tugu, hal pertama yang kulakukan adalah melakukan check in mandiri. Counter self-checking berada di sisi sebelah kanan setelah pintu masuk. Cukup dengan memasukan kode booking, tiket kita akan langsung ter-print. Kereta yang akan membawaku menuju Ibukota dijadwalkan akan berangkat pada pukul 08.00 WIB. Saat itu aku masih mempunyai 1 jam sebelum kereta berangkat. Aku putuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Melihat-lihat setiap sisi stasiun yang jarang aku datangi. Di setiap sisi Stasiun, terdapat beberapa ornament yang sangat khas dengan kota Yogyakarta. Tentu ini adalah pemandangan yang akan aku rindukan kelak.

Dari kejauhan terdengar pengumuman dari petugas yang memberitahukan kereta menuju Ibukota telah tiba. Aku kembali mengambil tiketku untuk memastikan di gerbong mana aku akan naik. Beberapa saat kemudian terdapat rombongan yang berjalan tepat di depanku. Kalau diperhatikan mereka adalah orang-orang yang akan naik di kereta yang sama denganku. Sambil memegang tiket, aku kemudian menanyakan arah menuju gerbongku ke salah satu petugas yang berada pada peron tersebut. Setelah mendapatkan arahan dari petugas tadi, aku segera bergegas ke arah yang dia sebutkan. Seluruh barang bawaan aku letakkan pada tempat penyimpanan di atas tempat dudukku. Hanya earphone dan charger yang aku taruh di tempat duduk.

Suara peluit dibunyikan oleh petugas diikuti dengan getaran pada kursi yang menandakan kereta ini sudah mulai bergerak menuju tujuannya. Selama delapan jam perjalanan, kereta ini akan berhenti dibeberapa stasiun dan akan mengakhiri perjalanannya ketika tiba di Ibukota. Tempat dudukku yang terletak persis di samping jendela membuatku bisa melihat dengan jelas ketika kereta meninggalkan Stasiun Tugu. Disinari dengan cahaya pagi keemasan, berangkatlah aku menuju titik lain dalam hidupku. Gerbong yang aku naiki ini sudah hampir terisi penuh ketika melewati beberapa stasiun. Tampaknya mereka yang berada pada gerbong ini adalah orang-orang yang juga bekerja di Ibukota. Jam sudah menunjukan pukul 10.00 WIB ketika beberapa petugas menawarkan jualan mereka untuk makan siang. Petugas wanita yang berpostur tinggi melihat ke arahku sambil menawarkan minum dan makanan. Aku kemudian membeli satu botol air mineral dan beberapa chips untuk mengisi perutku selama perjalanan. Harganya lumayan mahal, kalau kita bandingkan dengan harga biasa, maka kurang lebih harga makanan di kereta sekitar 2-3 kali lipat harga normal. Tapi tak apa pikirku, toh snack ini juga sebagai pengalih perhatianku terhadap waktu tempuh yang lumayan lama.

Hal yang menarik dari perjalanan jauh menggunakan kereta adalah pemandangannya. Saat itu aku beruntung sekali karena dapat melihat hamparan sawah yang masih hijau. Pantulan matahari disertai dengan rimbunnya pepohonan disekitar jalur kereta api membuatku lupa akan rasa bosan yang sempat aku rasakan beberapa jam yang lalu. Hal ini sangat berbeda dengan perjalanan saat malam hari. Saat kereta melewati salah satu jembatan yang dikelilingi sungai, aku secara tak sadar menurunkan tanganku dan menjatuhkan botol air mineral yang tadi aku beli. Pemandangan yang sangat indah membuatku berpikir bahwa aku tak akan pernah melihat pemandangan kali ini jika aku tidak memutuskan untuk berangkat ke Ibukota. Walaupun di suatu tempat dalam hati ini aku merasa tidak nyaman dan terbersit ketakukan dalam benakku, aku tetap akan melangkah kedepan. Karena menurutku ketakutan untuk melangkah ke tempat baru akan lebih menakutkan pada hari dimana aku sudah tidak dapat melangkah lagi.

Pemandangan selama perjalanan menuju Ibukota tidak hanya berisi keindahan saja, tetapi terdapat pula tempat-tempat yang tidak sedap untuk dipandang. Hal ini sering ditemui ketika kereta hendak memasuki stasiun atau area perkotaan. Kebanyakan terdapat rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari rel kereta. Ada juga sungai-sungai yang pasirnya sudah penuh dengan lubang galian, hanya menyisakan air yang sudah keruh. Terdapat kumpulan gerbong kereta bekas tak terpakai di beberapa stasiun yang sudah terbengkalai, hanya menyisakan cerita saat masih menjadi satu dengan susunan kereta ini. Kereta pun memasuki terowongan yang lumayan panjang, sekeliling kereta pun menjadi gelap gulita, hanya terdengar gesekan roda kereta dengan rel. Selama beberapa waktu kami semua dikelilingi kegelapan yang seakan-akan hendak menelan kami menuju tempat terdalam di bumi. Perlahan tapi pasti, secercah cahaya terlihat dari sela-sela jendela. Cahaya yang terang dan hangat menarikku dari dalam kegelapan yang dingin. Nada khas yang terdengar disetiap stasiun bergema diikuti dengan suara petugas yang memberitahukan dalam beberapa jam lagi kereta akan segera tiba di tujuan akhir.

Perjalananku kali ini tidak hanya berkesan, tetapi juga memberikan pembelajaran tersendiri kepadaku. Kehidupan tidak hanya berisikan keindahan, kesenangan, tetapi juga kejelekan, kekurangan, kesedihan dan ketidaksempurnaan yang saling melengkapi membentuk suatu kesempurnaan dalam harmoni. Ketika kereta mulai melambat, para penumpang termasuk aku mulai mempersiapkan diri untuk turun ke stasiun tujuan. Sudah mulai terdengar aksen-aksen yang berbeda dari tempat awal kereta berangkat. Suara-suara mulai menawarkan bantuan untuk membawakan barang bawaan para penumpang. Suasananya pun sangat berbeda, apapun yang dilakukan orang-orang diluar terasa lebih cepat. Setelah kereta benar-benar berhenti, antrian penumpang yang sudah terbentuk disepanjang gerbong mulai bergerak menuju pintu keluar. Dengan ransel di punggung dan sebuah kardus mie ditangan, aku menyisipkan badanku ke dalam antrian tersebut. Mendekati pintu keluar, terdapat seorang petugas yang dengan siap menjaga agar penumpang yang turun tidak tersandung. Sambil menampilkan senyum terbaik, petugas tersebut seakan berterima kasih kepada para penumpang yang turun dengan perlahan. Aku pun bergerak turun ke peron kedatangan. Sambil berjalan menuju pintu keluar, disepanjang stasiun ini sudah tidak terdapat lagi ornament-ornament yang sering aku dapati ketika di Yogyakarta dulu. Pintu keluar hanya berjarak beberapa meter, cahaya panas Ibukota mulai menyambut dari luar pintu tersebut. Di bagian atas pintu kedatangan terpampang tulisan “SELAMAT DATANG”, dengan memantapkan hati, aku melangkah menuju cahaya Ibukota, JAKARTA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *